Showing posts with label CARAKA. Show all posts
Showing posts with label CARAKA. Show all posts

Thursday, 27 August 2009

CELOTEH ANAK

MALAIKAT PENCATAT AMAL

Seperti biasa, siang itu aku bersama kedua anakku, ahda dan asfa istirahat di rumah. Sambil melipat baju dari jemuran, aku menemani anak anakku bermain. Tiba tiba Ahda datang dan berkata "Mi, tadi aku nakali adik, udah dicatat malaikat atid belum ya mi? aku menjawab "Ya sudah dicatat?" segera ahda istighfar "astaghfirullah". Ya Allah, anakku mengingatkan aku. Sedikit aja dia melakukan kesalahan segera dia ingat kalau kesalahannya dicatat sama malaikat atid dan segera membersamai dengan istighfar. Berapa kali kita melakukan kesalahan dan begitu mudah kita melupakan kesalahan tersebut.



JADI PEMIMPIN

Hari ini merupakan hari pertama ahda sekolah di SDIT Luqman Al Hakim. Ada pengalaman menarik yang diceritakan ahda saat pulang sekolah. "Mi, tadi itu pemilihan ketua kelas". "Lalu siapa yang terpilih?" tanyaku. "Mbak Fida. Aku nggak tahu sih ketua kelas itu apa, ternyata ketua kelas itu tugasnya memimpin. Kalau suruh jadi pemimpin, ya saya mau". Jawab ahda dengan nada agak kecewa. Memang sejak kecil, saya selalu menanamkan pada anak anakku bahwa kita besok mau jadi pemimpin. Kita harus sekolah, kita harus mengaji dan lainnya itu dalam rangka mempersiapkan supaya besok bisa jadi pemimpin yang kuat.



ALLAH REPOT

Bencana tsunami melanda Aceh Raya. Kita bangsa Indonesia senantiasa mengikuti perkembangan korban tsunami lewat televisi. Tidak ketinggalan juga saya dan anak anak saya. Ketika melihat masih ada orang aceh yang selamat saya berkomentar sambil memberikan hikmah pada anak anak saya "Subhanallah, orang orang yang selamat itu memang benar benar pilihan Allah, Allah masih menghendaki orang itu untuk diselamatkan", kataku menerangkan. E….. si Asfa yang baru berumur 5 tahun menimpali "Iya ya mi, kalau semuanya diselamatkan Allah, kan Allah repot ya mi". langsung kakaknya menjawab "ya tidak, Allah itu Maha Kuasa. Allah itu bisa menyelamatkan orang banyak dan tidak kerepotan".



SEDIH MELIHAT TEMAN BERTENGKAR

Pertengkaran di antara anak anak itu sudah biasa, tetapi menjadi sesuatu yang mengharukan bagi Ahda. Saat itu Ahda berumur 7 tahun. Pulang sekolah Ahda bercerita " Mi, tadi aku menangis". "Kenapa?" tanyaku menyelidik. "Tadi itu mbak Fida dan Kiki bertengkar, aku sedih sekali. Bukankah mereka itu orang Islam? Sesama orang Islam itu kan bersaudara ya mi, kok mereka malah bertengkar…..? saya sedih melihat mereka", kata Ahda dengan nada haru.

HIKMAH 2

Menjawab Kritik


Ketika kaum Muslim baru saja kembali dari suatu peperangan yang melelahkan, sebagai kepala negara, Khalifah Umar bin Khatab menyampaikan pidato kenegaraan sebagai laporan kemenangan gemilang yang baru saja diraih oleh pasukannya. Namun, ketika selesai mengucapkan kalimah hamdalah dan salawat, diiringi dengan kata-kata, ''Wahai manusia, dengarkan dan dan taatilah!'' itu tiba-tiba seorang di antara yang hadir langsung berdiri dan menginterupsi, ''Hari ini kami tidak akan mendengar dan menaatimu wahai Ibn Khattab!'' kata orang itu.

Khalifah tertegun dan keheranan, sambil berkata, ''Ada apa?'' Laki-laki itu melanjutkan, ''Anda telah membagi-bagi ganimah [rampasan] kepada kami. Kami masing-masing mendapatkan jatah sehelai kain. Kami lihat Anda hari ini memakai baju baru. Dari mana Anda peroleh jatah kain lainnya?''

Khalifah Umar kemudian menyuruh anaknya menjawab. ''Wahai Abdullah bin Umar, bangun dan jawablah pertanyaannya.'' Abdullah bin Umar kemudian berdiri dan berkata, ''Ya. Aku lihat baju ayahku tidak cukup dengan kain yang dibagikan, lalu bagianku aku berikan kepadanya agar cukup untuk sebuah jubah, karena jubahnya yang ada telalu banyak tambalan.''

Mendengar itu, laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya lalu berkata, ''Sekarang kami akan mendengar dan menaatimu wahai Khalifah. Silakan lanjutkan pidatomu!''

Untuk ukuran zaman sekarang, para pendukung seorang pemimpin pasti tersinggung dan bereaksi keras bila orang berulah sebagaimana laki-laki itu. Apalagi, orang itu bersikap taksopan --dalam anggapan umum saat ini-- di hadapan seorang kepala negara dan berani melontarkan tuduhan atau dugaan yang tidak benar di depan publik. Tindakan itu bahkan bisa dianggap merongrong dan merusak nama baik sang pemimpin. Oleh karena itu, tak jarang para pendukung tokoh itu melakukan segala cara untuk membungkam suara-suara seperti itu demi menyelamatkan pemimpin yang didukungnya.

Bandingkan dengan sikap Khalifah Umar yang tidak tersinggung sedikitpun itu. Beliau menyadari bahwa rakyat mempunyai hak untuk menyampaikan kritik sesuai dengan janjinya ketika dinobatkan sebagai Khalifah. ''Siapa yang melihat aku tak beres, silakan tegur dan luruskan aku.'' Saat itu seorang laki-laki bangkit dari duduknya dan berkata, ''Ya. Kami akan menegurmu dengan mata pedang kami.'' Umar tidak kaget, terlebih lagi karena ia merasa tidak melakukan sesuatu apa pun seperti yang dituduhkan.

Beliau dengan serius mendengar suara mereka, kemudian segera memberikan jawaban dengan bukti-bukti nyata yang meyakinkan umat. Namun, bukan sebaliknya, Ia malah mengecam dan mengancam. Wallahu a'lam. (Muhammad Abbas Aula)

HIKMAH

Kisah Segelas Susu


Suatu hari, Khalifah Abu Bakar al-Shidiq kembali dari pasar. Di rumah, beliau melihat segelas susu murni di atas meja. Karena rasa haus akibat aktivitas yang melelahkan, beliau meminum susu tersebut tanpa curiga sedikit pun tentang asal-usul segelas susu tersebut.

Saat itu, pembantu beliau masuk rumah dan menyaksikan tuannya telah menghabiskan segelas susu yang dia letakkan di atas meja, selanjutnya ia berkata, ''Ya Tuanku, biasanya sebelum engkau memakan dan meminum sesuatu pasti menanyakan lebih dulu asal-muasal makanan dan minuman tersebut, mengapa sewaktu meminum susu tadi engkau tidak bertanya sedikit pun tapi langsung meminumnya?'' Dengan rasa kaget, Abu Bakar bertanya, ''Memangnya susu ini dari mana?'' Pembantunya menjawab, ''Begini, ya Tuanku, pada zaman jahiliyah dulu dan sebelum masuk Islam, saya adalah kahin (dukun) yang menebak nasib seseorang.

Suatu kali setelah saya ramal nasib seorang pelanggan, dia tidak sanggup membayar karena tidak punya uang, tapi dia berjanji suatu saat akan membayar. Tadi pagi saya bertemu di pasar dan dia memberikan susu itu sebagai bayaran untuk utang yang dulu belum sempat dia bayar.'' Mendengar itu, langsung Abu Bakar memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut dan mengoyang-goyangkan anak lidah agar muntah. Beliau berusaha untuk mengeluarkan susu tersebut dari perutnya, dan tidak ingin sedikit pun tersisa. Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, beliau sampai pingsan karena berusaha memuntahkan seluruh susu yang telanjur beliau minum dan berkata, ''Walaupun saya harus mati karena mengeluarkan susu ini dari perut saya, saya rela.''

Banyak disebutkan dalam kisah para sahabat Nabi, para salafu al shalih sangat menjaga setiap makanan dan minuman sebelum masuk ke dalam perut. Ketika mereka sudah benar-benar yakin bahwa makanan tersebut halal seratus persen, barulah mereka berani memakannya, tapi kalau masih berbau syubhat apalagi haram mereka tidak mau memakannya, walaupun harus kelaparan. Para salafu al shalih sangat takut kepada hadis Nabi, ''Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram, maka api neraka lebih pantas untuknya.'' Di samping itu, mereka sangat yakin bahwa makanan adalah sumber tenaga dan inspirasi untuk tubuh dan otak. Makanan yang halal akan membuat tubuh gampang untuk melaksanakan ibadah.

Kehati-hatian mereka juga untuk keluarga. Mereka tidak mau memberi makanan yang haram kepada keturunannya agar melahirkan sifat terpuji, karena yakin ketika keluarga diberi makanan yang haram, jangan diharapkan istri dan anak kita akan membawa kedamaian di tengah keluarga. Sang anak dan istri akan jauh dari sifat shalih dan shalihah. Istri-istri di zaman sahabat dan salaf al shalih selalu berpesan kepada suaminya sebelum berangkat kerja, ''Wahai suamiku, kami kuat menahan lapar, tapi tidak kuat terhadap api neraka, carilah rezeki yang halal untuk kami.'' (Okrisal Eka Putra)

Wednesday, 19 August 2009

Dongeng Sholat

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"
Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, "Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"
Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam......
Kemudian ketika datang waktunya magrib,temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.
Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi,dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita!"
Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat?".
"Aku takut!",jawab setan dengan suara gemetar.
"Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh "sujud" pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil beredar pergi.

Tuesday, 18 August 2009

Aqidah

Teori Evolusi Darwin, Bisakah Diterima?

Assalamualaikum 'Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Alhamdulilahi Rabbil 'alamin, wash-shalatu was-salamu 'alaa Sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihihi ajma'in, wa ba'du
Dunia telh mengakui bahwa apa yang dicetuskan oleh Darwin tentang teori evolusi bertentangan dengan semua agama, bukan hanya agama samawi tetapi juga semua jenis agama. Bahkan para ilmuwan sekuler yang juga tidak percaya adanya tuhan pun banyak yang tidak bisa menerima teori lemah itu. Dan yang juga perlu diungkap adalah ternyata si Darwin sendiri pun agak meragukan teorinya itu. Dalam bukunya itu, Darwin masih banyak meragukan teorinya itu dengan beberapa pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan.
Maka bukan pada tempatnya kita sebagai muslim mendukung teori yang secara ilmiyah sangat lemah, apalagi 180% bertentangan dengan ajaran semua agama yang dikenal umat manusia.
Al-Qur'an sudah menjelaskan asal usul manusia yang disebutkan dari keturunan Nabi Adam a.s. Kitab samawi lainnya pun sepakat bahwa asal mausia adalah Adam. Bukan kera yang berevolusi menjadi manusia.
Terkait dengan tanda tanya besar yang menghantui hati si Darwin sendiri, sebagai contoh adalah dengan tidak pernah ditemukannya fosil makhluk-makhluk yang sedang mengalami evolusi itu sendiri. Belum pernah ditemukan ada fosil kera yang setengah manusia. Kalau pun ada, ternyata itu penuh dengan manupulasi dan kebohongan semata.
Apalagi Darwin sendiri bukanlah seorang yang punya kapasitas untuk mengajukan teori seperti itu karena dia bukan ahli biologi. Sehingga ini sungguh menggelikan. Dan perlu diingat bahwa ketika Darwin mencetuskan teorinya, ilmu hayat (biologi) saat itu masih sangat purba. Mereka belum mengenal inti sel apalagi struktur DNA yang sedemikian rumit. Mikrobiologi jelas belum ada, yang ternyata menguak mistieri yang paling penting dalam dunia mikro.
Bisa kita katakan bahwa seandainya Darwin pada hari ini hidup kembali, pastilah dia akan buru-buru meralat semua teorinya itu karena tak satupun yang sesuai dengan iptek hari ini. Karena ketika kita bicara mikrobiologi, kita akan dapati bahwa ternyata struktur makhluq hidup itu sedemikian kompleks, sehinga amat mustahil dengan sendirinya akan tercipta, apalagi hanya sekedar kebetulan.
Kalaupun teori evolusi itu benar, mengapa kita juga tidak menyaksikan satu saja di antara manusia di jagad ini yang sedang berproses kembali menjadi makhluq lainnya. Kenapa proses ini harus berhenti di manusia saja. Lalu apakah bentuk manusia itu sudah final?
Bila kita cermati secara mendalam, ternyata Darwin para evolusionis ini punya latar belakang yahudi yang memang sejak awal kerjanya hanya ingkar pada Allah semata. Ini adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Dimana pun ada yahudi, maka kerusakan dan kehancuran selalu terjadi disitu.

Wallahu A'lam Bish-Showab,
Wassalamu 'Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Wednesday, 15 July 2009

Si Jalak Harupat

Oto Iskandar Dinata - Si Jalak Harupat
Si Jalak Harupat Tumbal Kamerdekaan
Nurutkeun saujaring carita, sababaraha poe sabada proklamasi, Oto Iskandar Di Nata kantos sasauran kieu "Upama Indonesia Merdeka meunang ditebus ku hiji anak Indonesia, kuring geus nyadiakeun diri jadi kandidat munggaran pikeun eta pangorbanan!", naha ieu teh tekad pangabdian patriot bangsa atawa ucapan hiji anak manusa kana nasibna nu bakal tumiba?

Prof. Taufik nyutat pamendak Bung Karno presiden munggaran RI, anu nyebatkeun, Revolusi teh boga logika sorangan, malah boga sopan santun sorangan. Revolusi mah henteu wawuheun kana kecap nganuhunkeun, teu wanoheun kana mulang tarima. Revolusi bisa "ngamangsa anak-anakna" oge durhaka ka indungna.
Dina mangsa awal revolusi, panyeluk "bersiap" ngandung sarewu ma'na kakerasan. Oto Iskandar Di Nata numutkeun Prof. Taufik saterusna, lain angka, tapi anjeunna teh salahsaurang pamaen utama babak klimaks teater kahirupan bangsa, dina waktu revolusi nasional geus henteu bisa balik deui ka tempat asal. Beuki deukeut eta teater ngahontal klimaksna, beuki intens peranan anu dilalakonkeunana.
Dina detik-detik "jangji kamerdekaan" diucapkeun ku pamarentahan tentara pendudukan Jepang, R. Oto Iskandar di Nata geus ngiring dina rupa-rupa upaya nataharkeun kamerdekaan bangsa. Anjeunna diangkat jadi salah saurang anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), anggota Komisi UUD nu diketuaan ku Sukarno, anjeunna oge ngiring kana proses nyusun UUD 1945. Waktu BPUPKI dibubarkeun, anjeunna dipilih jadi Panitiya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Tapi PPKI numutkeun Prof. Taufik Abdullah henteu kaburu nataharkeun kamerdekaan, ngan kaburu ngabewarakeun kamerdekaan jeung natahareun pamarentahan hiji nagara nasional. Tah, dina poe-poe anu kacida rengkengna, dina waktu para anggota PPKI dipentes kudu nangtukeun Presiden jeung Wakil Presiden. Soanten Pa Oto meupeus kasimpean, tanpa ragu- ragu anjeunna nyalonkeun Ir.Sukarno jeung Hatta. Tanpa ragu-ragu, PPKI oge narimana ku sora anu gembleng. Tepi ka ahirna Bung Karno kaselir jadi presiden RI anu munggaran, kitu deui Bung Hatta jadi Wapres anu munggaran di ieu republik.
Heuleut sababaraha minggu ti harita, Oto Iskandar di Nata geus naratas ngadegna Badan Keamanan Rakyat (BKR), nu mangrupa cikal-bakal TNI, teu kungsi lami anjeunna dijungjung lungguh jadi Mentri Negara RI.
Sajeroning kitu, Jepang nu eleh perang ngunek-ngunek keneh, ngabahayakeun. Kitu deui musuh anyar, tentara Sekutu nu diluluguan ku Inggris, jadi ancaman. Walanda di dieu ngabonceng. Harita aparatur nagara tacan ajeg, atuh datangna Sekutu/Walanda teh nimbulkeun bancang pakewuh. Dina kaayaan anu kusut tur kucrut saperti kitu, sanajan sumanget kamerdekaan bisa keneh dikadalian, Oto Iskandar di Nata ngereles ical teuing ka mana turta henteu kantos mulih deui tug tepi ka kiwari. Lain ngantunkeun para putra anu asuheun keneh sareng kulawargana wungkul, Oto Iskandar di Nata oge ngantunkeun bangsana anu kudu terus berjuang nyorang lalampahan panjang geusan ngahontal kamerdekaan jeung hak-hakna.
Tapi anjeunna lain hiji angka tina jumlah maranehanana anu dimangsa ku revolusi. Anjeunna teh pribadi anu sawadina dipieling jeung dipatri dina ingetan, anjeunna teh conto tina tranformasi perjuangan bangsa. Tina guru jadi pejuang pulitik, tina insan anu ngagem garis pulitik kooperator, jadi tokoh revolusioner. Tina inohong nu gerak dina suasana kadaerahan jadi hiji nasionalis anu kentel. Kitu Prof. Taufik Abdullah mairan biografi Si Jalak Harupat Oto Iskandar di Nata nu disusun ku Dr. Nina Herlina Lubis M.S.
Ti Boedi Oetomo ka Paguyuban Pasundan
Saperti anu geus pada terang, jaman sakola keneh di HKS (Hoogere Kwekkschool) di Purworejo Jawa Tengah, taun 1917-1920 , R. Oto Iskandar di Nata geus kasengsrem ku dunya pulitik. Di Purworejo ngawalan kokojayan di dunya pulitik teh. R. Oto lebet organisasi Budi Oetomo. Sabada ngawulang oge teras aktip di Boedi Oetomo. Boh jaman janten Bapa Guru di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Banjarnegara Jateng (1920-1921), boh jaman ngawulang di HIS Negri Pakalongan (1924-1928). Taun 1921-11924 kantos ngawulang di HIS bersubsidi di Bandung.
Malah kantos kaselir janten wakil ketua Boedi Oetomo cabang Bandung. Sabada dialihkeun deui ka Pakalongan, R. Oto dipercanten jadi wakil ketua ngarangkep Komisaris Pangurus Besar Boedi Oetomo. Tepi ka ahirna dipercanten jadi anggota Dewan Kota Pakalongan ngawakilan Boedi Oetomo. Saperti anu dingkabkeun ku Dr. Nina Lubis, nya di dieu Oto Iskandar di Nata langkung laluasa ngiprah geusan ngabela bebeneran jeung merjuangkeun hak rayat leutik. Tapi kulantaran soantenna harus teuing, jadi dianggap ngabaribinan pamarentah kolonial Walanda mangsa harita. Oto sapara kanca, diantarana Darmosoegito jeung Kartosoebroto katut Fadhool ti Partey Syarikat Islam, diasupkeun kana daptar hitam pamarentah kolonial Hindia Walanda.
Atuh puguh, saban-saban aya kajadian karusuhan atawa naon wae anu dianggap baha ka pamarentah Walanda, anu dituding jadi ulon-ulonna teh, pasti Oto Iskandar di Nata sapara kanca. Upama ngayakeun ririungan sanajan lain nyaritakeun pulitik, pasti diintip-intip ku PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Lila-lila mah eta pulisi tukang ngintip arasup ka jero rohangan milu ngariung. Eh...ahirna maranehna kasengsremeun, arasup jadi anggota Boedi Oetomo. Jadi nyahoeun peresis, anu dicaritakeun jeung disawalakeun di Boedi Oetomo mah kapentingan masarakat, lain kapentingan pribadi.
Jaman jadi anggota Dewan Kota di Pakalongan R. Oto ngabongkar kasus Bendungan Kemuning, tepi ka rayat bisa disalametkeun tina panipuan pangusaha Walanda. Tapi balukarna, Residen Pakalongan bendu, Oto diasupkeun kana daptar hitam tur diancam hukuman buang. Tapi da teu gimireun ieuh. Konflik jeung Residen teu papanjangan sabab Sang Residen kaburu dipindahkeun. Jenengan Oto Iskandar di Nata jadi leuwih sohor. Ari pangaresepna, kana olahraga maenbal. R. Oto dilkenal pamaen galandang tengah nu tanggoh kulantaran kitu jadi seueur sobat katut kanca mitrana nu disambungkeun di lapang maenbal. Diantarana sobatna teh Kepala Penjara Pakalongan. Kasempetan hade ieu dimangpaatkeun kanggo ngahatean Bapa Kapala Panjara supaya para narapidana dialajar nulis maca. Tetela ditarima. Di Pakalongan R. Oto ngadegkeun Sakola Kartini.
Pamarentah Walanda jadi ngarasa hariwang nyaksian tindak tanduk R. Oto sadidintenna. Popularitasna di masarakat dianggap ngabahayakeun, tepi ka ahirna R. Oto Iskandar di Nata dialih tugaskeun ka Batavia (Jakarta) taun 1928, jadi guru HIS Muhammadiyah bersubsidi. Karirna di Boedi Oetomo lekasan tepi ka dieu, dipungkas di Pakalongan.
Juli 1928 R. Oto Iskandar di Nata ngawitan lebet ka Paguyuban Pasundan Cabang Batavia, langsung dipercanten jadi Sekrtaris Pengurus Besar. Dina kongres Paguyuban Pasundan di Bandung taun 1929 dipilih jadi Ketua PB. Paguyuban Pasundan, tepi ka taun 1942. Ti taun eta keneh Paguyuban Pasundan sacara formal dibubarkeun ku Tentara Jepang.
Dina jaman kapamingpinan R. Oto Iskandar di Nata, Paguyuban Pasundan ngalaman melesat maju, dina sagala rupa widang garapan. Widang pulitik, sosial, ekonomi, wanita, kepemudaan. Sanajan basisna masarakat Sunda, tapi dongkangan perjuanganana mah nasional. Jadi, henteu salah upama dikategorikeun pergerakan etnonasionalis teh.
Dina mangsa kapamingpinan R. Oto Iskandar di Nata, garis perjuangan kooperatip dipetakeun ku Paguyuban Pasundan. Pangna milih garis perjuangan kooperatip, numutkeun R. Oto, lantaran bangsa pribumi mangsa harita tacan boga sarat-sarat keur hiji perjuangan non-kooperasi. Ari eta sarat-saratna teh, kudu boga kakuatan batin jeung uteuk, kakuatan duit, jeung rasa solidaritas. Sikep kooperatip teh, jalan atawa cara perjuangan lain tujuan perjuangan, saur R. Oto Isandar di Nata.
Kiprah Paguyuban Pasundan anu paling utama tur diutamakeun jaman Oto Iskandar di Nata, upaya ningkatkeun kecerdasan bangsa pribumi. Atuh dugdeg diadegkeun sakola-sakola keur pribumi. Sajaba ti pendidikan, Pa Oto jeung Paguyuban Pasundan harita, metakeun upaya ngarehabilitasi para manten tahanan, mere bantuan hukum, ngahimpun dana keur beasiswa, dana keur mantuan korban musibah jeung mere penerangan umum. Hiji-hijina jalan keur ngalawan penjajah numutkeun Pa Oto, ku cara ningkatkeun sumber daya manusa (SDM), liwat pendidikan.
Ti taun ka taun jumlah sakola anu diadegkeun ku Paguyuban Pasundan nambahan terus, leuwih-leuwih sabada eta organisasi dipingpin ku R. Oto Iskandar di Nata. Nyebar di sakuliah tatar Sunda. Nu dibere pancen ngurus sakola- sakola, di tingkat pusat diadegkeun Bale Pamulangan Pasundan. Dipatotoskeun terus diputuskeun dina Kongres Paguyuban Pasundan di Bogor taun 1931. Mimitina mah pusatna di Tasikmalaya, tapi saterusna dipindahkeun ka Bandung. Nu munggaran mingpin BPP, Ahmad Atmadja. Ti saprak ngadeg BPP, sakola-sakola Pasundan beuki nyebar jumlahna beuki loba, kitu deui guru jeung murid-muridna beuki nambahan.
Hasil perjuangan R. Oto Iskandar di Nata dina widang pendidikan pantes dipikareueus. Tepi ka ayeuna anu kabandungan beuki mekar teh widang pendidikan pisan, malah tepi ka perguruan tinggina, Universitas Pasundan kaasup perguruan tinggi nu cukup maju tur moyan di Jawa Barat.
Dina widang ekonomi, Paguyuban Pasundan dina kongresna anu ka 19 di Tasikmalaya taun 1934, geus mampuh ngadegkeun Centrale Bank Pasundan, dina wangunan NV. anu dipingpin ku Iyos Wiriiaatmadja. Pusatna di Jakarta, di daerah ngadeg cabang-cabang. Ti mangsa ka mangsa ieu bank maju terus. R. Oto Iskandar di Nata teh acining pamingpin pulitik, tapi kagungan jiwa wiraswasta, ku kituna perhatianana kana Koperasi oge ageung.
Kulantaran kitu kahirupan perkoperasian di lingkungan Paguyuban Pasundan oge mekar tur maju. Di saban cabang ngadeg koperasi tur maraju, kabeh disebutna Koperasi Pasundan. Gerakna dina widang keuangan, perdagangan, aya oge anu husus we nyadiakeun paparabotan tatanen, keur para patani. Garapan widang ekonomi sejenna anu kaasup nonjol, Lumbung Padi (Leuit Pare). Nu nalingakeunana Puseur Lumbung Pasundan. Kulantaran widang ekonomi beuki maju tur mekar, R. Oto sareng para pangurus Paguyuban Pasundan anu sejenna ngaraos peryogi ngadegkeun pingpinan pusat badan-badan nu ngageroh widang ekonomi.
Dina Kongres Paguyuban Pasundan ka 23 di Sukabumi ahirna dipatotoskeun terus diputus ngadegkeun badan di tingkat pusat nu pancenna ngageroh widang ekonomi. Eta badan disebutna Bale Ekonomi Pasundan. Aturan- aturanna oge diwincik.Ti saprak ngadeg tepi ka taun 1942 Bale Pasundan dipingpin ku Raden Soedarma Soeradiredja, anu ngarangkep jadi Wakil Ketua PB. Paguyuban Pasundan jeung Direktur Centrale Bank Pasundan.
Kana peranan kaum wanoja, R. Oto Iskandar di Nata teu lali, dina kapamingpinanana, diadegkeun pakumpulan wanoja Pasundan anu saterusna disebut Pasundan Istri (PASI). Sajaba ti kitu, ka para nonoman harepan bangsa ageung pisan kamelangna. Desember 1934 ngadeg YOP (Jeugd Organisatie Pasoendan) ketuana anu munggaran R. Adil Poeradiredja. Dina kongresna anu munggaran taun 1935 panjangna JOP ganti jadi "Jasana Obor Pasundan".
Waktu suhu pulitik karasa beuki panas mapag Perang Pasipik, Pa Kendo (Soekanda Bratamanggala), usul supaya diadegkeun hiji badan anu disebut "JOP Brigade" pikeun ngungkulan kajadian-kajadian anu henteu dipikahayang. Diantarana nu ngarojong teh Jendral AH. Nasution. Rerencepan Pa Nas mantuan ngalatih baris berbaris ka anggota JOP Brigade tepi ka waktu katohyan anjeunna ditegor ku Direktur Akademi Militer harita Letkol Altena.
Debat Sengit Di Volksraad
15 Juni 1931, R. Oto Iskandar di Nata janten anggota Volkstraad wakil ti Paguyuban Pasundan. Tilu entragan ngalalakon di Dewan Rayat anu mashur teh, 1931-1934, 1935-1938, 1939-1942. R. Oto ngagabungna kana Fraksi Nasional anu diadegkeun ku Moch. Husni Thamrin, Ketua Perkumpulan Kaum Betawi. R. Oto Iskandar di Nata kantos janten pamingpinna sajaba ti Husni Thamrin, Soekarjo Wiryopranorto jeung R. Panji Soeroso katut anu sejen-sejenna. Dina sidang Volksraad antara 1931-1932 R. Oto kapalayna nyarios ku basa Malayu supaya kahartieun ku rayat nu teu bisa basa Walanda. Tapi Ketua Sidang keukeuh menta supaya nyarita ku Basa Walanda. Kapaksa R. Oto Iskandar di Nata tumut kana aturan.
Biantarana mashur teuneung ludeung, peureus ngiritik pamarentahan Hindia Walanda. Diantarana R. Oto ngeceskeun, ciri-ciri kebangkitan bangsa-bangsa nu dijajah katingal tina timbulna gerakan kamerdekaan di mana-mana, kaasup Indonesia. Taun 1931 Oto Iskandar di Nata ngadongsok supaya Indonesia gancang dibebaskeun ku pamarentah Hindia Walanda.
"Pasundan ngaku ayana hak tiap golongan rayat Indonesia pikeun leuwih ngawewegan kabangsaan jeung kabudayaanna masing-masing. Pasundan kacida panujuna kana wacana manunggalna bangsa Indonesia", kitu diantarana biantarana anu mashur di Volksraad. Dicutat ku Ketua Umum Paguyuban Pasundan kiwari Haji A.Syafei basa mieling tepung taun Paguyuban Pasundan anu ka 88 sawatara waktu ka tukang. Salah sahiji kagiatan milangkala anu ka 88, mitembeyan ngawangun prasasti "Indonesia Menggugat", numutkeun Haji Syafei, sawirahma antara perjuangan Bung Karno dina Indonesia Menggugat jeung perjuangan Paguyuban Pasundan dekadeu tilupuluhan teh. Malah R. Oto Iskandar di Nata dina biantarana di Volksraad taun 1923, tandes pisan ngeceskeun, pones Landraad Bandung nu dikuatan ku Raad van Justisi (Pangadilan Tinggi), ka Ir.Sukarno, Gatot Mangkupradja, Maskoen katut Soepriadinata samasakali henteu saluyu jeung rasa kaadilan bangsa Indonesia.
Dina enggoning ngiritik kawijakan-kawijakan pamarentah jajahan anu jauh tina wijaksana, R. Oto Iskandar di Nata soantenna leuwih harus, leuwih teuneung jeung ludeung adu renyom debat di Volksraad. Ngajejeleh jeung mentog pamarentah jajahan tanpa tedeng aling-aling.
Ngiritikna ka pamarentah jajahan nu tumali jeung pendidikan oge kacida peureusna."Pendidikan anu lumangsung ayeuna teh, ngan keur nataharkeun klerek pabrik jeung jurutulis. Para Pangrehpraja kalakuanana ngan saukur leletak, lantaran salah ngadidikna!", adu renyom anu sengit kajadian dina pamandangan umum anu panjang, hareupeun sidang Volksraad, dewan rayat jieunan pamarentah kolonial Walanda. Dumasar kana wawanenna enggoning ngiritik pamarentah jajahan anu dianggapna telenges, bengis, dolim bari tanpa tedeng aling-aling tur ninggang dina bener, R. Oto Iskandar di Nata dileler jujuluk "Si Jalak Harupat".
Ari jalak harupat, hayam jago anu kongkorongokna harus, kuku-kukuna sareukeut, mun diadukeun salawasna unggul. Jujuluk Si Jalak Harupat nurutkeun Dr.Nina,Lubis mah asalna ti Wirasenjaya, guru HIS Pasundan Cianjur, rakana Sutisna Senjaya, redaktur munggaran suratkabar Sunda Sipatahoenan.
Perjuangan Liwat Pers
Paguyuban Pasundan anu ti taun 1926 geus narima ideologi nasionalisme, milu ngagabung kana Indonesische Eenheids Committee (Komite Persatuan Indonesia). Dina wadah organisasi ieu ngagabung jeung Sarekat Islam, Muhammadiyah, jeung nu sejen-sejenna deui, sanajan henteu mampuh ngumpulkeun sakabeh organisasi anu aya.
Terus taun 1927, Paguyuban Pasundan oge ngagabung kana federasi partey- partey gagasan Ketua PNI Bung Karno nu disebut PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia. Paguyuban Pasundan ngutus tilu wakilna di PPPKI, R. Oto Koesoema Soebrata, Bakrie Soeraatmadja, Soetisna Sendjaya (Sutsen). Taun 1932 Oto Iskandar di Nata sareng Husni Thamrin ngagentos Latuharhary sareng Dr. Soetomo janten pangurus harian PPPKI. Taun 1939 organisasi-organisasi nasionalis ngadegkeun Gabungan Politik Indonesia (GAPI) anu tujuanna hayang ngadegkeun parlemen anu gembleng keur Indonesia. Pa Oto ngiring marajian lahirna GAPI ieu.
Pa Oto sareng mitra-mitra saperjuangan terus gerak geusan ngawujudkeun hiji parlemen partikulir keur ngimbangan Volksraad anu geus leungiteun kapercayaan. Taya kacape enggoning babalapan jeung waktu,m para tokoh pergerakan teh der ngayakeun kongres anu ahirna mupus Kongres Rayat Indonesia ganti ku Majelis Rakyat Indonesia. Pancenna jadi badan perwakilann rayat Indonesia. R.Oto ngiring di rengrengan pangurus.Ti harita aksi Indonesia Berparlemen nu diperjuangkeun ku GAPI diteruskeun ku Majelis Rakyat Indonesia. Tapi memeh prung padungdung, datang manten tentara pendudukan Jepang. Strategi naon deui anu ayeuna dipetakeun ku bebenteng Sunda ngigelan jaman Dai Nipong teh?
Ari Paguyuban Pasundan saenyana geus boga suratkabar Sipatahoenan nu diterbitkeun ku Paguyuban cabang Tasikmalaya taun 1923, pingpinan Redaksina Soetisna Sendjaya. Tadina medal saminggu sakali, tapi sabada dipingpin ku Bakrie Soeraatmadja mah jadi dua kali saminggu, ti taun 1930 redaksi dibantu ku Moch Koerdie. Taun 1931 nu ngageroh ieu suratkabar teh Pangurus Besar Paguyuban Pasundan. Medalna saban poe, jadi harian, ti Tasik dipindahkeun ka Bandung, kantorna nu mimiti di Kaca-kaca wetan, taun 33 pindah ka Banceuy tepi ka ahirna di Dalem Kaum ( ayeuna Dallas). Harita mah corongna Paguyuban Pasundan Sipatahoenan teh Ti Dalem Kaum pindah ka Jl.Sumatra.
Tapi Paguyuban oge kungsi nerbitkeun suratkabar basa Malayu Sepakat, Pemredna Ir.Oekar Bratakoesoemah, redaktur palaksanana Atje Bastaman. Tapi taun 1942 mah Sipatahoenan jeung Sepakat teh dibredel ku pamarentahan Jepang. Keur gagantina, Oto Iskandar di Nata sareng Moch.Koerdie bari ditalingakeun ku Jepang nerbitkeun suratkabar corong pamarentah Jepang, ngaranna ge "Tjahaya". Direkturna Pa Oto ku anjeun. Jadi media gabungan antara Sipatahoenan- Sepakat-Nicork Express jeung Sinar Pasundan. Aya saurang wartawan Jepang ditempatkeun di Tjahaya, teu beda ti bebegig, sabab teu ngartieun basa Indonesia.
Ngajelegur bom atum ngancurkeun Nagasaki Hirosima, Jepang eleh ku Sekutu. 17 Agustus 1945 Kamerdekaan Indonesia diproklamirkeun ku Sukarno- Hatta. Tjahaya ngamuat warta penting ieu dina berita utama.
Lalanang ti Bojongsoang
Dibabarkeun kaping 31 Maret 1897 di Desa Bojongsoang Kabupaten Bandung. Dipaparin jenengan Oto Iskandar di Nata. Putra Bapa Raden Haji Rachmat Adam sareng Ibu Raden Siti Hatidjah teh sadayana dalapan, Oto putra katilu.
Raden Haji Rachmat Adam anu memeh ibadah haji jenenganana Raden Natareja teh Lurah Desa Bojongsoang, Onderdistrik Buahbatu, Distrik Ujungberung Afdeeling / Kabupaten Bandung.
Diantawis rakana aya anu kantos jeneng Walikota Bandung, Raden Ating Atma di Nata. Di Bojongsoang tug tepi ka kiwari para kasepuhanana mah arapal peresis ka kulawarga Juragan Haji, ramana Pa Oto. Cindekna nu dikenal ku masarakat sajaba ti wedi asihna ka sasama, akur sauyunanana kulawarga Juragan Haji, eta kulawarga ti luhurna terahing ratu rembesing kusumah., tetesan andanawarih. Jadi, Oto lalanang ti Bojongsoang diasuh diageungkeun di tengah-tengah kulawarga menak Sunda. Nurutkeun Dr.Nina mah, upama terus dicrukcruk disusud ka luhurna, brasna teh teu ka mamana, nya langsung ka Sri Baduga Maharaja, luluhur Pajajaran anu kamashur.
Jaman sakola di HIS kelas tujuh Banjarnagara Jawa Tengah, Oto kapentang jamparing asih, asmara mekar di Jawa, dugi ka prukna pisan nikah sareng mojang geulis jenengan Raden Roro Soekirah, putra R. Martodiwiryo, asisten Wadana Banjarnagara. Lalanang ti Bojongsoang repok jodo sareng wanoja Banjarnagara. Gusti maparin sawelas calon generasi penerus, tujuh istri, opat pameget, cikalna nu sohor Sentot Iskandar di Nata, pejuang tan kenang pati.
Ditelasan Di Mauk?
Dina buku catetan Ibu Oto anu dicutat eusina ku Dr.Nina Lubis dieceskeun , Bapa teh angkatna ka Jakarta, sabada aya anu nelepun ti Jakarta. Kulantaran dua dinten dua wengi lebeng taya bejana, turta anu biasana nelepun ayeuna mah teu nelepun, enggal nelepun ka Jakarta, mapaykeun carogena, tapi taya anu terangeun.
Diserat dina catetan harian Ibu Soekirah " Bapa Diculik 31 Oktobver 1945" Harita Ibu nuju bobot, marurangkalih asuheun keneh pisan, ari Si cikal Sentot berjuang, Ibu Oto estuning katurug katutuh. Dugi ka brolna Si bungsu lahir masih juuh cisoca. Ibu Soekirah teu kendat emut kana kasauran carogena memeh angkat ka Jakarta, hal ieu nembe dibetuskeun ka putrana sababaraha dinten kana dintenan Ibu ngantunkeun. Numutkeun Ibu Oto, memeh angkat, Bapa kantos ngagerendeng, saurna teh " Bisa jadi Bapa teh moal mulang deui, atawa jadi korban!", kaayaan memang rengkeng, di buruan bumi Pa Oto sering katingal sajumlah pamuda tinggulandang nyurigakeun.
Ari numutkeun Pa Kendo mah, sadinten memeh ngantun Bandung ngabujeng ka Jakarta, Pa Oto kantos nepangan Pa Kendo Bratamanggala Komandan Front Bandung Utara di Lembang. Unjukan bade ka Jakarta, disaur ku Bung Karno saurna teh. Ku Pa Kendo dipuntangan sangkan ulah janten angkat, genting saurna teh. Taspi Pa Oto keukeuh angkat. Nya harita Pa Kendo mah tepang panungtung sareng Pa Oto teh. Hanjakalna, bade dikawal oge teu keresaeun saur Pa Kendo.
Plengles teu aya bejana. Bung Karno kantos marentah ka Mr.,Kasman supaya milarian R.Oto Iskandar di Nata, sabada Mentri Negara ngaleungit dua bulan lamina. Diungkabkeun ku Dr.Nina Lubis anu nyutat carita ti hiji sumber. Sukanda Bratamanggala, Komandan Front Bandung Utara teh kantos ditugaskeun ka Banten. Di Mauk, Pa Kendo nampi katerangan ti salahsaurang anggota Laskar. Pokna teh, R.,Oto jeung saurang tahanan sejenna kungsi dikerem di salahsahiji ruangan tahanan di Mauk. Saterusna R.Oto dibarawa ka basisir Mauk, di dieu ditelasan, layonna dipiceun ka laut. Anehna, layon teh teu daek wae tilelep atawa kabawa lambak jauh ka tengah, ieu mah ka sisi deui ka sisi deui kabawa ku lambak.
Dumasar kana ciri-ciri anu disebutkeun ku Si Laskar tea, dipastikeun, eta layon teh leres, layon Si Jalak Harupat, jawara pulitik, jadug pamuk ti tatar Sunda, R.Oto Iskandar di Nata. Kulantaran taun-taun harita, taun opatpuluhan katompernakeun ( 1949) masih keneh kaasup periodeu perjuangan, henteu kungsi aya beja, pamarentah nalungtik kajadian ditelasanana Pa Oto di basisir Mauk. Memang aya anu dijagragkeun ka mahkamah pangadilan, ngaranna Mudjitaba, pulisi anu dituding nelasan Pa Oto di basisir Mauk Tangerang. Mudjitaba dijagragkeun ka pangadilan sabada 14 taun Pa Oto diculik. Ceuk Mudjitaba mah aya anu nitah nelasan Pa Oto teh, duka saha-sahana mah. Kulantaran Pa Oto dituding arek masrahkeun kota Bandung ka Walanda, Laskar amarah, Pa Oto diculik dibarawa ka Mauk Tangerang, saterusna ditelasan di basisir Mauk. Layonna dialungkeun ka laut.
Jaksana harita teh Prof.Dr.Priyatna Rasyid, ari Hakim Ketuana Rafli Rasyad. Mudjitaba dipones 15 taun panjara. Ti saprak asup ka panjara taya bejana deui kumaha nasibna.
Poe naon tanggal sabaraha Pa Oto ditelasan weleh teu kapaluruh. Kulantaran kitu dina berita resmi dieceskeun, Oto Iskandar di Nata Mentri Negara Pertahanan RI, pupus 20 Desember 1945. Urang Sunda, diluluguan ku Paguyuban Pasundan ngan bisa nyandak sarat layon ti basisir Mauk anu saterusna dipendem di Pasir Pahlawan Lembang. Bandung......Pa Oto ngantunkeun wawangi arum, jenenganana dipatri dina tiap dada urang Sunda hususna anu luhur ngajenanana kana sajarah perjuangan bangsana.
[HRS, Saperti anu diungkabkeun ku DR. Nina Herlina Lubis jeung Paguyuban Pasundan].

Sunday, 12 July 2009

MADING CARAKA

Redaksi Majalah Dinding
SMP Pasundan Rancaekek

Pelindung
Kepala Sekolah

Dewan Pembina
Pembina OSIS

Penanggung Jawab
Devy Arista
Wakil
Amir Latheief

Sekretaris
Winda Hestiana

Bendahara
Finna Nurhidayah

Ketua Redaksi
Indrie Puspitasari
Wakil
Erlinda Febriyanti

Dewan Redaksi
Ryani, Annatasha, Akeira.
Novi M, Vina Rahmatul

Koordinator Reporter
Novi andini Utari

Reporter
Fera siti, Sintia mutiara sari, Gita, Fitri Handayani
M. Gerald, Agung

Ilustrator
Winda Hestiana, Windi Oktasela,